header-logo.png

KONDISI UMUM

Letak dan Luas

Kawasan Taman nasional Ujung Kulon secara administrative terletak di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Propinsi BANTEN. Secara geografis Taman Nasional Ujung Kulon Letak geografis berada pada 6°30’-6°52’ LS, 102°02’-105°37’ BT Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Cagar Alam Gunung Honje, Cagar Alam Pulau Panaitan, Cagar Alam Pulau Peucang, dan Cagar alam Ujung Kulon seluas 61.357,46 Ha dan Penunjukan perairan laut di sekitarnya seluas 44.337 Ha yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Pandeglang, Propinsi Dati I Jawa Barat menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Ujung Kulon maka luas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon adalah 105.694,46 Ha.


Topografi

Sebagian besar topografi daerah Kabupaten Pandeglang adalah dataran rendah yang berada di daerah Tengah dan Selatan yang memiliki luas 85,07% dari luas keseluruhan Kabupaten Pandeglang. Kedua daerah ini ditandai dengan karakteristik utamanya adalah ketinggian gunung-gunungnya yang relatif rendah, seperti Gunung Payung (480 m), Gunung Honje (620 m), Gunung Tilu (562 m) dan Gunung Raksa (320 m). Daerah Utara memiliki luas 14,93 % dari luas Kabupaten Pandeglang yang merupakan dataran tinggi, yang ditandai dengan karekteristik utamanya adalah ketinggian gunung yang relatif tinggi, seperti Gunung Karang (1.778 m), Gunung. Pulosari (1.346 m) dan Gunung Aseupan (1.174 m).


Klimatologi

Suhu udara di Kabupaten Pandeglang berkisar antara 22,5°C – 27,9°C. Pada daerah pantai, suhu udara bisa mencapai 22°C – 32°C, sedangkan di daerah pegunungan berkisar antara 18°C – 29°C. Kabupaten Pandeglang memiliki curah hujan antara 2.000 – 4.000 mm/thn dengan rata-rata curah hujan 3.814 mm dan mempunyai 177 hari hujan rata-rata per tahun serta memiliki tekanan udara rata-rata 1.010 milibar. ada musim kemarau (Juni-Agustus), cuaca didominasi oleh Angin Timur yang menyebabkan Kabupaten Pandeglang mengalami kekeringan, terutama di wilayah bagian Utara, terlebih lagi bila berlangsung El Nino


Hidrologi

Wilayah Kabupaten Pandeglang mengalir 14 sungai yang berukuran sedang sampai besar. Sungai-sungai tersebut adalah S. Cidano, S. Cibungur, S. Cisanggona, S. Ciliman, S. Cihonje, S. Cipunagara, S. Cisumur, S. Ciseureuhan, S. Cijaralang, S. Cikadongdong, Sungai Ciseukeut, S. Cimara, S. Cibaliung, dan S. Cicanta. Dari ke-14 sungai tersebut terbagi dalam 6 (enam) Daerah Aliran Sungai (DAS) antara lain: DAS Ciunjun, DAS Cidano, DAS Ciliman, DAS Cimandiri dan DAS Cikeruh. 


Geologi

Kabupaten Pandeglang ditinjau dari segi geologi memiliki beberapa jenis batuan yang meliputi :

-
Alluvium, terdapat di daerah gunung dan pinggiran pantai

-Undiefierentiated (bahan erupsi gunung berapi), terdapat di daerah bagian utara tepatnya di daerah Kecamatan Labuan, Jiput, Cikedal, Cisata, Saketi, Mandalawangi, Cimanuk, Cipeucang, Menes, Banjar , Kaduhejo, Pandeglang, Karang Tanjung dan Cadasari

-Diocena, terdapat di daerah bagian barat, yaitu di Kecamatan Cimanggu dan Cigeulis

-Piocena sedimen, di bagian selatan di daerah Kecamatan Bojong, Munjul, Cikeusik, Cigeulis, Cibaliung, dan Cimanggu

-Miocene Lemistone, disekitar Kecamatan Cimanggu bagian utara

-Mineral deposit, yang terbagi atas beberapa mineral, yakni (Belerang dan sumber air panas di Kecamatan Banjar, Kapur/karang darat dan laut di Kecamatan Labuan, Cigeulis, Cimanggu, Cibaliung, Cikeusik, dan Cadasari dan Serat batu gift, terdapat di Kecamatan Cigeulis. Jenis tanah di Kabupaten Pandeglang dipengaruhi oleh lima faktor pembentuk tanah, yaitu batuan induk, topografi, umur tanah, iklim, vegetasi/biologis serta pengaruh faktor lainnya) 

Kondisi Lahan

Seiring evolusi dan kepunahannya, kini, badak tersisa di dunia hanya 5 jenis yang persebarannya hanya di Benua Afrika (2 jenis) dan Asia (3 jenis). Jenis tersebut adalah badak india (Rhinoceros unicornis), badak jawa (Rhinoceros sondaicus), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan dua badak di Afrika yaitu badak hitam (Diceros bicornis) dan badak putih (Ceratotherium simum).Khusus badak sumatera dan badak jawa, kedua jenis ini memang hanya ada di Indonesia. Meski tergolong langka dan terancam punah namun nasibnya sudah diujung tanduk. Ini terlihat dari jumlahnya yang sedikit dan habitatnya yang terus terusik. Melalui SK Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992, dengan luas keseluruhan 120.551 ha, yang sebelumnya sebagian wilayah TNUK ini termasuk wilayah Perhutani. Perubahan tersebut tentunya memberikan pengaruh terhadap kehidupan penduduk desa yang telah ada pada kawasan maupun sekitar kawasan sebelum ditetapkan sebagai Taman Nasional. Kawasan yang berada atau bersinggungan langsung dengan TNUK dikenal sebagai kawasan penyangga. Untuk mengatasi permasalahan yang dapat menurunkan kualitas dari fungsi TNUK adalah dengan meningkatkan peran dari kawasan penyangga. Salah satu kampung di desa Taman Jaya yakni kampung Cimenteng akan direncanakan sebagai model kampung yang ekologis atau dikenal dengan istilah ecovillage.

Copyright© 2024 Balai Taman Nasional Ujung Kulon. All right reserved.